Mertua membunuh menantunya laki-laki, mertua laki-laki berselingkuh dengan menantu perempuannya, mertua laki-laki memperkosa menantunya………
Adalah sepenggal cerita permasalahan yang terjadi atas retaknya hubungan antara mertua dan menantu.
Bagaimana sikap anda jika melihat hal yang demikian, bagaimana jika anda mengalami sendiri ? Apa yang harus anda lakukan untuk membangun hubungan yang harmonis antara mertua dan menantu.
1.Bangunlah komunikasi yang baik. Untuk membangun komunikasi yang baik diperlukan rasa hormat baik kepada orang tua maupun sebaliknya kepada anak.
2.Anggaplah mereka sebagai anak sendiri, atau sebaliknya sebagai orang tua sendiri.
3.Buatlah sebuah acara yang dapat memupuk hubungan antar keduanya, baik melalui pertemuan, silaturahmi, rekreasi bersama, dsb.
4.Masing-masing harus tahu diri dan menahan diri. Artinya tahu diri adalah orang tua harus menyadari bahwa anaknya yang sudah berkeluarga sudah mempunyai kehidupannya sendiri dan menahan diri adalah jika ada masalah yang dihadapi keluarga anaknya jangan cepat-cepat untuk mencampuri urusan mereka kecuali dimintai tolong oleh mereka.
5.Sebaliknya demikian juga, anak harus bisa menyadari bahwa orang tua (mertua) mempunyai latar belakang, tradisi yang berbeda dengan orang tuanya sendiri. Sehingga ia harus berusaha untuk menyelami bagaimana pandangan orang tua barunya tersebut.
Jika memang sudah terjadi konflik sebaiknya terbukalah kepada pihak ketiga baik itu saudara, teman atau orang yang profesional dibidang ini yaitu konselor agar mendapatkan pendampingan pastoral yang memadai dan mendapatkan solusi pemecahannya.
Semoga..........
Adalah sepenggal cerita permasalahan yang terjadi atas retaknya hubungan antara mertua dan menantu.
Bagaimana sikap anda jika melihat hal yang demikian, bagaimana jika anda mengalami sendiri ? Apa yang harus anda lakukan untuk membangun hubungan yang harmonis antara mertua dan menantu.
1.Bangunlah komunikasi yang baik. Untuk membangun komunikasi yang baik diperlukan rasa hormat baik kepada orang tua maupun sebaliknya kepada anak.
2.Anggaplah mereka sebagai anak sendiri, atau sebaliknya sebagai orang tua sendiri.
3.Buatlah sebuah acara yang dapat memupuk hubungan antar keduanya, baik melalui pertemuan, silaturahmi, rekreasi bersama, dsb.
4.Masing-masing harus tahu diri dan menahan diri. Artinya tahu diri adalah orang tua harus menyadari bahwa anaknya yang sudah berkeluarga sudah mempunyai kehidupannya sendiri dan menahan diri adalah jika ada masalah yang dihadapi keluarga anaknya jangan cepat-cepat untuk mencampuri urusan mereka kecuali dimintai tolong oleh mereka.
5.Sebaliknya demikian juga, anak harus bisa menyadari bahwa orang tua (mertua) mempunyai latar belakang, tradisi yang berbeda dengan orang tuanya sendiri. Sehingga ia harus berusaha untuk menyelami bagaimana pandangan orang tua barunya tersebut.
Jika memang sudah terjadi konflik sebaiknya terbukalah kepada pihak ketiga baik itu saudara, teman atau orang yang profesional dibidang ini yaitu konselor agar mendapatkan pendampingan pastoral yang memadai dan mendapatkan solusi pemecahannya.
Semoga..........



0 komentar:
Poskan Komentar