Halaman Utama

Senin, 19 Oktober 2009

0 DISAAT AKU MERASA TIDAK BERGUNA


Kami ingin mempunyai tatanan sendiri……..kami sudah sepakat untuk keluar dari kelompok ini….ya kami sudah tidak bisa bekerja sama lagi dengan kalian…!! 
Demikian teriakan-teriakan orang-orang yang dulu aku kenal santun, penuh hormat. Mereka meminta untuk keluar dari kerjasama yang selama ini sudah dibangun dengan baik. Ketika mereka teriak, aku pun sempat megimbangi mereka dengan kemarahan besar. Dua tahun sudah peristiwa itu berlalu dan sekarang semuanya berubah menjadi lebih baik. 
Jika mengingatnya, aku tidak habis pikir kenapa orang yang kelihatannya santun dan penuh hormat bisa menjadi garang seperti preman jalanan. Tidak pakai cara-cara yang manis, memakai komunikasi yang baik dan aturan main yang sudah disepakati bersama. Aku pun tidak pernah mengerti kenapa itu terjadi di hadapanku dan menjadi pengalaman hidupku.
Diantara masalah-masalah hidup yang aku alami, masalah yang satu itu membuatku saat itu sangat terbeban bahkan sempat terbersit dalam hati ternyata aku tidak berguna.
Tidak berguna karena tidak bisa mengatasi, tidak lagi di dengar, di cemooh, di singkirkan bahkan di belakangku orang-orang membuat sebuah gerakan yang menentangku.
Sekalipun saat itu aku sempat menutup mata dan telingaku, tapi aku mengerti dari tatapan mereka yang tajam dan menyudutkanku seolah-olah aku yang menjadi biang semua masalah.
Aku pun sempat menghindar untuk tidak bertemu langsung dengan mereka, aku enggan dan tidak mau lagi bicara secara terbuka sebab aku berpikir toh tidak ada gunanya.
Namun seiring berjalannya waktu, aku tertolong dengan sehatnya mentalku dan cara berpikirku yang logis. Bahwa kebaikan seringkali muncul dari sebuah peristiwa yang buruk.
Akhirnya dengan legawa aku pun berani menata ulang organisasi dimana aku berkiprah, menata ulang dan mengarahkan ketidaknormalan hidup dalam tuntunan yang benar.
Berkomunikasi lagi dengan baik, bertemu dan tersenyum dengan lega dan bangga bahwa aku diperbolehkan olehnya dewasa.
Perasaan tidak berguna memang diperlukan juga untuk belajar menjadi berguna. Asalkan mata hati kita juga bisa dipergunakan untuk belajar melihat celah pengharapan.
Seringkali yang dilakukan oleh kebanyakan orang kan tidak demikian ?
Ada orang yang tidak mampu melihat celah-celah pengharapan saat semuanya terasa gelap karena duka atau perkara.
Ada orang yang tidak mau melihat celah-celah pengharapan karena celah yang ada munculnya di tengah-tengah lingkaran masalah yang melingkupinya.
Ada orang yang ingin terus lari dari kenyataan dan menghindari jalan keluar
Bahkan ada orang yang langsung ingin mematikan pengharapannya karena dirasa celah itu mustahil untuk di jadikan pegangan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.